TERMOKIMIA
TERMOKIMIA I
Termokimia adalah kajian
dalam ilmu kimia yang membahas tentang perubahan energi selama reaksi kimia
berlangsung. Untuk belajar termokimia, mari kita tinjau kembali hukum kekekalan energi
berikut ini.
A.
HUKUM KEKEKALAN ENERGI
Hukum kekekalan energi menyatakan bahwa energi
tidak dapat diciptakan atau dimusnahkan, tetapi energi dapat diubah dari satu
bentuk ke bentuk yang lain. Berdasarkan hukum tersebut dapat diketahui bahwa
tidak ada energi yang hilang dalam suatu sistem, melainkan hanya diubah menjadi
bentuk lainnya.
Contoh perubahan energi
dalam kehidupan sehari-hari dapat kamu amati ketika mengisi baterai ponsel.
Saat baterai dihubungkan dengan sumber daya, ada panas yang menyertai proses
tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa energi listrik yang dialirkan dari sumber
daya ke ponsel juga diubah menjadi energi panas. Contoh lain dari perubahan
energi adalah energi cahaya matahari yang diubah menjadi karbohidrat oleh
tumbuhan pada proses fotosintesis. Demikian pula pada proses metabolisme,
energi kimia yang tersimpan dalam ikatan karbohidrat diubah menjadi energi yang
dapat digunakan untuk melakukan berbagai aktivitas sel dalam bentuk ATP.
Perpindahan energi
berbentuk kalor (Q) atau kerja (W) yang memengaruhi jumlah keseluruhan
energi pada sistem disebut dengan energi dalam (E). Nilai mutlak energi dalam tidak dapat ditentukan, yang dapat
ditentukan hanyalah perubahan energi dalamnya (ΔE). Hubungan antara
perubahan energi dalam, kalor, dan kerja dirumuskan dalam hukum termodinamika
berikut.
Keterangan:
∆E = perubahan energi dalam (J);
Q = jumlah kalor yang diserap atau dilepas sistem
(J); dan
W = kerja yang dilakukan sistem (J).
Q dan W dapat
bernilai positif atau negatif. Untuk menentukan nilai Q dan W dapat digunakan aturan berikut.
•
Q bernilai positif (+) jika
sistem menyerap kalor (Q > 0).
•
Q bernilai negatif (-) jika
sistem melepaskan kalor (Q < 0).
•
W bernilai positif (+) jika
sistem menerima kerja (W > 0).
•
W bernilai negatif (-) jika
sistem melakukan kerja (W < 0).
Contoh Soal 1
Suatu sistem melakukan
kerja sebesar 250 kJ dan menyerap kalor sebesar 150 kJ. Berapakah perubahan
energi dalam sistem tersebut?
Pembahasan:
Contoh Soal 2
Suatu sistem dengan
perubahan energi dalam sebesar 500 kJ, melepaskan kalor sebesar 150 kJ.
Berapakah kerja yang dilakukan oleh sistem tersebut?
Pembahasan:
B.
SISTEM DAN LINGKUNGAN
Dalam mempelajari
termodinamika, kita perlu memahami de nisi sistem dan lingkungan. Sistem adalah
sejumlah zat atau campuran yang dipelajari sifat-sifat dan perilakunya (bagian
yang menjadi pusat perhatian dalam mempelajari perubahan energi), sedangkan
lingkungan adalah segala sesuatu di luar sistem. Contoh dari sistem dan
lingkungan dapat dilihat pada proses pelarutan HCl dan NaOH dalam segelas air
yang menyebabkan terjadinya perubahan suhu air. Gelas dan udara di sekitar
larutan adalah lingkungan, sedangkan larutan tersebut adalah sistem.
Interaksi antara sistem dan lingkungan dapat berupa pertukaran materi dan
energi. Berdasarkan pertukaran materi dan energinya, sistem dibedakan menjadi
tiga macam, yaitu sebagai berikut.
1. Sistem terbuka, yaitu sistem yang dapat mengalami
pertukaran materi dan energi dengan lingkungannya. Contohnya, kopi yang
ditempatkan dalam gelas yang terbuka.
2. Sistem tertutup, yaitu sistem yang dapat mengalami
pertukaran energi dengan lingkungannya, tetapi tidak mengalami pertukaran
materi. Contohnya, kopi yang ditempatkan dalam teko dari baja yang tertutup.
3. Sistem terisolasi, yaitu sistem yang tidak dapat
mengalami pertukaran materi dan energi dengan lingkungannya. Contohnya, kopi
yang ditempatkan dalam termos.
Setiap sistem kimia
memiliki energi yang besarnya bergantung pada keadaan sistem, yaitu keadaan sis
masing-masing zat (gas, cair, padat), jumlah zat, temperatur, dan tekanan.
Energi sistem itulah yang disebut sebagai energi dalam.
C.
REAKSI EKSOTERM DAN ENDOTERM
Dalam mempelajari
termokimia, kita akan mengenal istilah kalor reaksi. Kalor reaksi adalah kalor
yang menyertai suatu reaksi kimia yang dapat berpindah dari sistem ke
lingkungan atau dari lingkungan ke sistem. Adanya perpindahan kalor ini
bertujuan agar temperatur sistem sesudah reaksi sama dengan temperatur sistem
sebelum reaksi.
Berdasarkan arah
perpindahan energi, reaksi dibedakan menjadi dua jenis, yaitu reaksi eksoterm
dan reaksi endoterm.
1. Reaksi Eksoterm
Reaksi eksoterm adalah
reaksi yang disertai dengan perpindahan kalor dari sistem ke lingkungan. Pada
reaksi eksoterm, sistem yang melepaskan kalor akan mengalami penurunan energi,
sehingga energi sebelum reaksi (E1)
akan lebih besar daripada energi setelah reaksi (E2). Dengan demikian, perubahan energi (∆E) akan bernilai negatif, karena E2 – E1 akan menghasilkan nilai negatif (∆E < 0). Oleh karena kalor tersebut
mengalir dari sistem ke lingkungan,
maka dapat diketahui bahwa pada reaksi eksoterm terjadi kenaikan suhu
lingkungan.
2. Reaksi Endoterm
Reaksi endoterm adalah
reaksi yang disertai dengan perpindahan kalor dari lingkungan ke sistem. Pada
reaksi endoterm, sistem yang menerima kalor akan mengalami kenaikan energi
sehingga energi sebelum reaksi (E1)
akan lebih kecil daripada energi setelah reaksi (E2). Dengan demikian, perubahan energi (∆E) akan bernilai positif karena E2 – E1 akan menghasilkan nilai positif (∆E > 0). Oleh karena kalor tersebut
mengalir dari lingkungan ke sistem, maka dapat diketahui bahwa pada reaksi
endoterm terjadi penurunan suhu lingkungan.
D.
KONSEP ENTALPI REAKSI
Entalpi (H) adalah istilah yang menyatakan jumlah energi dari suatu sistem termodinamika. Besarnya entalpi dalam suatu sistem termodinamika (seperti reaksi kimia) tidak dapat diukur secara langsung, tetapi perubahannya (∆H) dapat dihitung. Satuan Internasional (SI) untuk ∆H adalah kJ/mol (kJ mol−1). ‘mol−1’ tidak menyatakan jumlah penyusun senyawa, tetapi jumlah per mol dalam persamaan tersebut, biasanya dengan acuan mol produk atau reaktan adalah 1.
Contoh:
Catatan: Terkadang mol−1 hanya dituliskan jika mol
reaktan atau produk adalah 1, atau tidak dituliskan sama sekali.
Persamaan-persamaan dalam
termokimia seperti di atas dinamakan persamaan termokimia. Persamaan termokimia
merupakan persamaan yang menyatakan jumlah mol reaktan dan produk, serta jumlah
energi yang terlibat. Persamaan termokimia dituliskan dalam keadaan standar
sebagai acuannya, yaitu 1 atm (101,3 kPa) dan 25oC (298 K). Suhu dan
tekanan tersebut digunakan karena unsur pada kondisi ini berada pada tingkat
yang paling stabil. Penulisan persamaan termokimia harus disertai dengan
kondisi sis senyawanya.
Contoh:
2H2 (g) + O2(g) → 2H2O
(g) ∆H = −484 kJ mol−1
Artinya: 2 mol gas H2
yang bereaksi dengan 1 mol gas O2 akan menghasilkan 2 mol H2O
dengan melepas kalor sebesar 484 kJ.
Perubahan entalpi (∆H) yang
diukur pada keadaan standar dinamakan dengan perubahan entalpi standar (∆Ho). Ada beberapa jenis
perubahan entalpi standar, yaitu sebagai berikut.
1. Perubahan Entalpi Pembentukan Standar (∆Hoƒ)
Perubahan entalpi pembentukan
standar adalah kalor reaksi yang dilepaskan pada pembentukan 1 mol senyawa dari
unsur-unsurnya pada keadaan standar. Perubahan entalpi pembentukan standar pada
umumnya bernilai negatif (reaksi eksoterm).
Contoh:
H2 (g) + ½ O2
(g) → H2O(l) ∆H = −285,8 kJ mol−1
Artinya: 1 mol gas H2
yang bereaksi dengan ½ mol gas O2 akan menghasilkan 1 mol H2O
dengan melepas kalor sebesar 285,8 kJ.
2. Perubahan Entalpi Penguraian Standar (∆Hod)
Perubahan entalpi penguraian standar adalah
kalor reaksi yang diserap pada penguraian 1 mol senyawa menjadi unsur-unsurnya
pada keadaan standar. Nilai perubahan entalpi penguraian standar merupakan
kebalikan dari nilai perubahan entalpi pembentukan standar. Pada umumnya, nilai perubahan entalpi penguraian
standar adalah positif (reaksi endoterm).
Contoh:
H2O(l) → H2(g)
+ ½ O2(g) ∆H = +285,8 kJ
mol−1
Artinya:
Untuk menguraikan 1 mol H2O menjadi 1 mol gas H2 dan ½ mol gas O2
dibutuhkan
kalor sebesar 285,8 kJ.
3. Perubahan Entalpi Pembakaran Standar (∆Hoc)
Perubahan entalpi
pembakaran standar adalah kalor yang dilepaskan pada pembakaran 1 mol zat pada
keadaan standar. Nilai entalpi pembakaran standar selalu negatif (reaksi
eksoterm).
Contoh:
C(s)
+ O2(g) → CO2(g) ∆H = −393,5
kJ mol−1
Nilai perubahan entalpi di
atas disebut sebagai entalpi pembakaran standar unsur karbon.
4. Perubahan Entalpi Penetralan Standar (∆Hon)
Perubahan entalpi
penetralan standar adalah kalor yang menyertai reaksi 1 mol H+ dan 1
mol OH− pada keadaan standar. Nilai entalpi penetralan
standar selalu negatif (reaksi eksoterm).
E.
ENERGI YANG DILEPASKAN
UNTUK PEMANASAN
Jumlah kalor yang diserap
(ditandai dengan penurunan suhu) atau dilepaskan (ditandai dengan kenaikan
suhu) suatu larutan dapat ditentukan dengan mengukur perubahan suhunya. Jumlah
kalor yang diserap atau dilepaskan pada pemanasan dapat dirumuskan sebagai
berikut.
Keterangan:
Q = kalor yang diserap/dibebaskan (J);
m = massa zat (g);
c = kalor jenis (J/gK atau J/goC); dan
∆T = T2 – T1 = perubahan suhu (K atau oC)
Contoh Soal 3
Pembakaran 1 mol etanol melepaskan kalor sebesar
500 J. Jika kalor yang dilepaskan mampu mendidihkan 100 gram air bersuhu 25oC,
maka berapakah jumlah mol etanol yang terbakar? (cair = 4,2 J/goC, asumsi efisiensi 100%)
Pembahasan:
Diketahui:
Kalor pembakaran 1 mol etanol = 500 J
T2 = 100°C (mendidih)
T1 = 25°C
cair = 4,2 J/goC
m = 100 g
Ditanya : jumlah mol etanol
yang terbakar = ... ?
Dijawab:
Mula-mula, tentukan jumlah
kalor yang dilepaskan pada pembakaran 100 gram etanol.
Oleh karena pembakaran 1
mol etanol melepaskan kalor sebesar 500 J, maka jumlah mol yang terbakar pada
pembakaran 100 gram etanol adalah sebagai berikut.
Jadi, jumlah mol etanol
yang terbakar pada pembakaran 100 gram etanol adalah 65 mol.
Video


0 Comments:
Post a Comment